Tak perlu menunggu kaya untuk beramal dan menebar manfaat.
Tak perlu menunggu kaya untuk memberi dan berbagi kepada sesama.
Dan tak perlu menunggu kaya karena segala amal yang kau berikan tak dihitung dari banyak atau sedikit yang engkau berikan tapi dihitung dari seberapa ikhlas engkau memberikan.
Kadang diantara kita ada yang berfikir nanti saja atau besok saja dalam beramal dan menebar kebaikan, tak terkecuali sang Kuncen juga mengalaminya
. Namun itu semua harus disikapi dan dikalahkan dengan jurus pamungkas yang mujarab yaitu “Pemaksaan”. Ya kadang amal itu tidak harus diawali dengan keikhlasan dan justru diawali dengan keterpaksaan, tapi apakah keterpaksaan kita itu akan dicacar oleh Malaikat dan dinilai sebagai Ibadah oleh Allah? InsyaAllah, segala niatan kita akan dicacat karena insyaAllah walau niat awal anda terpaksa, tapi coba kita sedikit berfikir anda dengan terpaksa memberika sesuatu yang anda miliki dengan maksud agar suatu saat menjadi terbiasa, lalu apakah itu bukan belajar ikhlas namanya?
Ingat, selama kita hidup, kita diwajibkan untuk belajar dan mencari ilmu termasuk diantaranya ilmu yang paling sulit dan tidak ada guru resminya didunia ini yaitu “ikhlas”. Jadi insyaAllah, walaupun amal kita itu tidak mendatangkan manfaat tapi kita masih mendapatkan manfaat dari “Tholabul ‘Ilmi” dan ilmu yang bermanfaat itu akan terus mengalirkan kebaikan untuk dirimu walau jasadmu telah hancur bercampur tanah.
Hal yang paling mudah adalah bila anda seorang yang hobi didunia maya adalah menebarkan dan meyebarkan artikel-artikel yang mengandung hikmah dan ilmu walau itu bukan tulisan anda murni tapi “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim)
Mungkin ada lagi pernyataan begini, Saya sekarang hendak mengumpulkan uang untuk memperbaiki hidup, lalu setelah terkumpul dan menghasilkan (menjadi kaya) baru saya akan beramal yang banyak,
Siapa yang menjamin kita hidup esok hari, siapa yang menjamin kekayaan kita tidak menutup hati kita dan Astaghfirullah, siapa yang menjamin kita masih beriman saat kita kaya (Na’udhubillah mindzalik). Sudah banyak contohnya orang yang dibutakan harta, dirangkul dunia dan menghamba pada kefanaan. Jadi tak perlu menunggu esok untuk berbuat baik.
Namun saya pesan dari saya, bahwa kita tidak boleh terlalu mengulur dan tidak pula terlalu menarik tangan kita. Islam itu penengah dan identik dengan pertengahan. Jangan sampai apa yang kita berikan justru menjerat saudara kita dalam kemalasan, dalam kehinaan, dan statis dalam berfikir. Jangan sampai amal kita salah sasaran dan digunakan oleh orang-orang yang tidak berhak.
Memang kita tidak boleh su’udhon dan namun mata kita kan tidak buta, banyak kan di kota besar orang yang mencari rizki dengan mengemis dan bahkan kadang membawa serta keluarganya mengemis bersama ( ngemis massal begono
) Dan kuncen sendiri kadang bingung kalo mau ngasih pengemis dijalan, antara takut dan iba. Takut kalo ternyata si pengemis hanya dimanfaatkan dan iba karena yang ngemis itu anak-anak bocah yang masih kecil.
Namun intinya kita harus belajar dan kalo perlu memaksa diri kita untuk ikhlas dalam segala perbuatan dan ibadah kita. Semoga kita lebih bijak dalam bersikap dan lebih membuka hati demi masuknya hidayah Allah
Semoga bermanfaat, wAllahu Subhanahu Wata’ala ‘Alam.
Semoga Allah menjernihkan hati kita semua
DIarsipkan di bawah: Cinta, Hikmah | Ditandai: amal, berbagi, fakir, kaya, yatim


Bener bgt, yang perlu nunggu kaya buat beramal. Siapa tau belum sempet kaya, sudah dipanggil olehNya. Jadinya ga sempet beramal dong….
http://ekomadjid.wordpress.com
kunjungan balik….. bagus postingannya… mengingatkan kita untuk tidak menimbun harta kita… mengingatkan kita akan pentingnya arti kata berbagi….
Terima kasih telah berkunjung balik.
terima kasih…
jadi mengingatkan… semoga yang membuat tulisan termasuk orang-orang yang “tidak menunggu kaya”
Kita sama2 belajar Pak Eko……..
makasih pencerahannya…
yup.. aq punya cerita singkat yg sering aq alami, dan ga jarang pikiran seperti ini merasuk di otak ku, contoh “nie org masi muda n sehat kok minta2 ya??sering bnget lagi??dia-dia mulu yg muncul, ga tau malu, knp dia ga kerja jd kuli or apa gtw!! kn masi kuat n masi bnyk lg pikiran negatif lainnya hehehe…” .jadi mau ga mau kadang ada rasa terpaksa di hatiku saat memberikannya, ingin berusaha ikhlas tapi kadang masiiiii aja hati rasanya ngeganjal,
Astagfirullah smg ilmu ikhlas bisa tertanam dan terus melekat di dalam hati qt AMIN.
thanks a lot u/ ngebahas ini
bang aku suka dengan polemik kalimat kalimat yg abang untaikan. aku suka karena memberi warna yg penuh perenungan untuk kita semua.
salam hangat selalu
Ikhlas memang sangat sangat sulit pada prakteknya. Coba kita perhatikan orang yang ngasih duit pada pengemis dan sebagainya itu ataupun untuk infaq. Yang diambil dan dikasihkan pasti duit yang sudah lecek dan kumal, padahal duit yang masih mulus dan baru sebenarnya ada.
@ Ciwir : Sama2 Mas Ciwir
@ Ika : Begitulah potret moral indonesia saat ini mbak ika
@ Dobleh yang malang : Salam hangat juga dari saya.
@ mufti Am : Betul juga sich Pak
Semoga kita tergolong orang yang kaya akan berlamal….
Amin…..