• Arsip Posting Blog Ini

  • Assalamu’alaikum Saudaraku

    Selamat Datang Di Gubug Maya milikku, Sebagai tamu adalah suatu kehormatan bagi saya untuk menjamu anda dengan tulisan-tulisan saya yang kurang berilmu. Komentar Anda Adalah Bentuk Perhatian Anda Bagi Kami Terima kasih Kunjungannya
  • Makna Hidup !!!!!

    Katika kita lahir, kita menangis dan semua orang tertawa melihatnya maka ketika kita mati, seharusnya kita buat mereka menjadi menangis melihat kita dan kita tertawa karena melihat syurga sesaat sebelumnya
  • Kata Mutiara

    Orang Cerdik Adalah orang yang selalu menjaga dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati, Orang Kerdil adalah orang yang hanya menuruti hawa nafsunya tetapi ia mengharapkan berbagai harapan pada Allah (HR Turmudzi)
  • Halaman yang ada

  • Hisab Bernilai BENAR jika telah jatuh Rukyah

  • Islam Rohmatan Lil’Alamin

    Jangan Membuat Sulit Pengamalan Islam Karena Islam Itu Mudah dan Memudahkan
  • Hikmah

    "Orang yang kaya beramal dengan hartanya, Orang miskin beramal dengan kesabarannya"
  • Istiqomah!!!

    Kadang apa yang kita lakukan tiada menghasilkan apapun kecuali kepenatan, tapi keistiqomahan akan berbuah dan buah istiqomah itu tidak lain adalah sebuah kebahagian
  • Tebarkan Kebaikan

    Silahkan ambil artikel atau apapun di situs ini tanpa harus meminta ijin namun menyertakan link balik ke situs ini sebagai wujud etika berjaringan. Terima kasih telah berbagi ilmu dengan saya
  • Total Pengunjung yang Pernah Singgah

  • Yang Sedang Online(s)

  • Jalin Silaturahim Lewat Jaringan Silahkan Klik

    Gak Bisa di Klik??? Langsung aja add radenmas_surya
  • Hati dan Cahaya Ke-Maha Agung-an Allah

    "tidak akan cukup untuk menampung Ku Langit Ku dan Bumi Ku itu, yang cukup menampung Ku adalah jiwa hamba Ku yang beriman" (hadist Qudsi)
  • Rumusan Tulisan

Cerita Si Azzam

Azzam, Begitu ia dipanggil. Nama aslinya Muhammad Zainudin Iskandar. Lahir dari keluarga yang serba kekurangan, namun Ayah selalu bilang padanya waktu ia masih kecil : “Suatu saat nanti kita akan terbebas dari kemiskinan dan kita akan menjadi berkecukupan, asalkan kita terus Ikhtiar dan berdo’a pada Allah dan mencari Rizki dengan cara yang Halal” Memang walau dari keluarga kurang mampu ayahnya selalu bersyukur dan tetap ikhtiar untuk merubah keadaannya, hanya saja beberapa faktor membuat ikhtiarnya seperti berjalan ditempat.

Azzam sejak kecil sudah terbiasa bekerja keras dan hidup susah, karena itu mentalnya sudah terbentuk oleh kerasnya hidup yang harus ia dan keluarganya lalui. Sejak duduk di bangku SD ia sudah terbiasa dimarahi guru gara-gara telat masuk sekolah, karena sebelum ia berangkat ke sekolah ia harus membantu ibunya membawa kue ke pasar. Ia selalu yakin dengan apa yang dikatakan ayahnya bahwa bila kita mau berikhtiar pasti Allah akan memberi jalan.

Memasuki SMP ia harus berjuang lebih keras lagi, walau sekarang tidak lagi ikut membawa kue ke pasar bersama ibunya, ia kini harus bertarung dan balapan dengan waktu agar tidak terlambat ke sekolah. Maklum ia mendapat beasiswa dari sekolah tersebut atas usulan dari Kepala Sekolahnya sesama di SD, karena Beliau tahu Azzam itu anaknya pintar namun kurang beruntung saja. Di SMP , terlambat 10 menit saja maka murid harus pulang kembali kerumahnya dan tidak boleh masuk ke Sekolah. Alhamdulillah, selama di SMP ikhtiar Azzam untuk tidak terlambat tidaklah sia-sia. Ia masuk dalam daftar murid yang lulus dengan nilai terbaik. Setidaknya ia masuk dalam 10 besar paralel, tepatnya di peringkat ke 3.

Melihat prestasi Azzam, orang tuanya sangat bangga sekaligus bingung. Mereka tahu kalau Azzam itu punya minat belajar yang tinggi sehingga sangat sayang jika ia tidak melanjutkan ke SMA. Namun orang tuanya bingung karena mereka tidak mampu membayar biaya masuk ke SMA yang nilainya saat itu 250.000 rupiah. Beruntunglah ada gurunya yang tahu tentang keadaan ekonomi keluarga Azzam dan Belilau tahu tentang prestasi Azzam karena
Guru itu adalah Wali Kelasnya sendiri. Akhirnya dari pihak SMP atas usul dari Wali Kelasnya memberikan rekomendasi keringanan biaya, dan Alhamdulillah dari pihak SMA setuju untuk menerima Azzam.

Walau bukan di SMA favorit tapi Azzam sangat bangga dan bersyukur karena ia masih dapat bersekolah dan merangkai cita-citanya untuk menjadi seorang Wira Usaha. Dari SMA yang tidak foavorit itu, Azzam didaulat untuk ikut Olympiade Kimia tingkat Kabupaten. Disana ia bertemu teman-teman dari sekolah yang lebih unggul namun ia justru tertantang untuk mengalahkan mereka bukannya malah minder. Dalam Olympiade Kimia itu Azzam hanya bisa menjadi juara 3 dan gugur harapannya untuk bisa mewakili Kabupatennya di ajang Olympiade tingkat Propinsi, karena hanya diambil 2 orang saja sebagai wakil kabupaten untuk tiap mata pelajaran.

Wal hasil setelah lulus dari SMA itu Azzam mulai bingung memikirkan kelanjutan studinya karena sekolahnya itu tidak mau memberinya Rekomendasi untuk meraih beasiswa SPMB. Akhirnya Pendidikan Azzam terbengkalai dan ia kini membantu ayahnya mengantarkan koran dari satu rumah ke rumah lainnya. Namun dalam hatinya masih terbersit keinginan untuk bisa kuliah. Setelah sekitar 1 tahun ia membantu ayahnya menjadi loper koran, ia mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan lebih menjanjikan masa depan. Ia diterima bekerja di sebuah Mini Market sebagai staff gudang. Hari demi hari karena prestasinya lebih dibanding teman-teman seangkatannya, dan karena kepala gudang yang lama mendadak berhenti maka diangkatlah Azzam menjadi kepala gudang yang baru di mini market itu. Saat itu gajinya 750.000 per bulan sebagai kepala gudang hanya terpaut 150.000 dari staff biasa.

Tapi posisi sebagai kepala gudang hanya dilakoninya selama 6 bulan saja kerena ia tersandung masalah yang lumayan serius. Barang digudangnya hilang, tak tanggung-tanggung yang hilang adalah barang yang mempunyai nilai jual yang tinggi jumlahnya pun tidak sedikit. Wal hasil Azzam pun di pecat dari Mini Market itu dan kembali jadi Loper Koran untuk membantu keluarganya. Maklumlah ia anak pertama dan satu-satunya anak laki-laki dikeluarganya. Adiknya masih duduk di SMP dan masih butuh banyak biaya, sehingga tak mungkin baginya untuk punya banyak pilihan dan menganggur.

Sekitar 4 bulan dari ia di pecat, ada seorang temannya mengajaknya untuk merantau ke Ibu Kota dan bekerja bersamanya sebagai pelayan toko. Ia pun mengatakan perihal itu pada ayah dan ibunya, hanya saja sambutan ibunya kurang setuju. Ayahnya sich setuju aja, buat dirinya mencari pengalaman hidup. Akhirnya setelah dibujuk oleh ayahnya, ibunya setuju dan mengijinkan Azzam untuk hijrah ke Ibukota.

Disana ia bekerja dengan seorang pedagang dari Jawa, dan ia tinggal di toko itu bersama kedua temannya. Sesekali ia diajak oleh Majikannya ikut belanja ke distributor dan kadang juga temannya yang diajak. Di toko itu ia belajar banyak hal tentang cara berdagang, berinteraksi dengan pembeli dan menyenangkan hati pembeli. Setelah Empat tahun bekerja pada tuan yang sama, membuat Azzam merasa bosan, ia coba mencari-cari informasi tentang lowongan pekerjaan ditempat lain. Namun tak sampai mendapatkan pekerjaan baru, tuannya justru mendaulatnya menjadi menantu dan dianugrahi Putri tuannya yang bisa dibilang paling cantik diantara yang lain ( karena yang itu cowok semua, edr)

Setelah ditimbang dan dipikirkan dengan matang akhirnya, permintaan tuannya itu tidak dapat ia kabulkan. Dan justru tak lama kemudian ia justru menikah dengan wanita dari keluarga sederhana di kampung halamannya. Setelah berkeluarga, Azzam mulai memutar otak mengakali kebutuhan hidup yang saling tumpang tindih antara ia, istrinya dan keluarganya. Wal hasil, ia pun menyuruh istrinya untuk berjualan di pasar, disamping toko tempatnya bekerja. Walau sudah ditolak lamarannya oleh Azzam, namun tuannya tidak memecatnya jadi ia masih bisa bekerja disana, malahan hubungan mereka semakin akrab. Karena Istrinya itu menjadi teman curhat dari anak tuannya yang hendak dijodohkan dengan Azzam.

Setelah 5 tahun berlalu, usaha istrinya itu pun sudah menunjukkan hasil. Ia kini sudah tidak lagi berjualan di samping toko lagi tapi sudah mengontrak lapak di pasar. Akhirnya karena dirasa modal sudah terkumpul dan adiknya sudah bekerja di kampung maka Azzam pun memberanikan diri untuk memperluas usahanya dengan mengontrak toko yang sekaligus dijadikan sebagai rumahnya. Dengan dukungan dari tuannya yang lama (Azzam menjadikan tuannya supplayer di tokonya) usahanya pun berkembang dan akhirnya ia tidak lagi mengontak melainkan membeli toko kecil itu.

Hingga akhirnya dengan semakin berkembangnya toko milik tuannya, tokonya pun semakin berkembang dan sekarang ia sudah dapat memperbesar tokonya dan memberi ruang lebih untuk anak-anaknya bermain. Ia pun sekarang tak perlu bingung masalah biaya sekolah yang dulu selalu membuatnya was-was. Dan kini Ayah dan Ibunya pun sudah mendapatkan tempat tinggal yang layak hasil patungannya dengan adiknya. Dan sekarang setiap 2 bulan Azzam dan keluarga pulang ke kampung halaman untuk menjenguk Orang tuanya dengan Mobil pick up sederhana hasil keringat dia dan istrinya.

Semoga dapat diambil manfaat, dan di teladani.

Do’a Azzam(ketika masa sekolahnya) kepada Allah ” Ya Allah Mudahkanlah segala jalanku, mudakanlah jalan ilmuku, mudahkanlah urusanku dan mudahkanlah jalan rizkiku. Mudahkanlah jodohku, mudahkanlah mautku dan jadikanlah aku salah seorang diantara hamba-Mu yang engkau mudahkan hisabnya.Amiin”

Allahu ‘alam

islamkucinta.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: