• Arsip Posting Blog Ini

  • Assalamu’alaikum Saudaraku

    Selamat Datang Di Gubug Maya milikku, Sebagai tamu adalah suatu kehormatan bagi saya untuk menjamu anda dengan tulisan-tulisan saya yang kurang berilmu. Komentar Anda Adalah Bentuk Perhatian Anda Bagi Kami Terima kasih Kunjungannya
  • Makna Hidup !!!!!

    Katika kita lahir, kita menangis dan semua orang tertawa melihatnya maka ketika kita mati, seharusnya kita buat mereka menjadi menangis melihat kita dan kita tertawa karena melihat syurga sesaat sebelumnya
  • Kata Mutiara

    Orang Cerdik Adalah orang yang selalu menjaga dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati, Orang Kerdil adalah orang yang hanya menuruti hawa nafsunya tetapi ia mengharapkan berbagai harapan pada Allah (HR Turmudzi)
  • Halaman yang ada

  • Hisab Bernilai BENAR jika telah jatuh Rukyah

  • Islam Rohmatan Lil’Alamin

    Jangan Membuat Sulit Pengamalan Islam Karena Islam Itu Mudah dan Memudahkan
  • Hikmah

    "Orang yang kaya beramal dengan hartanya, Orang miskin beramal dengan kesabarannya"
  • Istiqomah!!!

    Kadang apa yang kita lakukan tiada menghasilkan apapun kecuali kepenatan, tapi keistiqomahan akan berbuah dan buah istiqomah itu tidak lain adalah sebuah kebahagian
  • Tebarkan Kebaikan

    Silahkan ambil artikel atau apapun di situs ini tanpa harus meminta ijin namun menyertakan link balik ke situs ini sebagai wujud etika berjaringan. Terima kasih telah berbagi ilmu dengan saya
  • Total Pengunjung yang Pernah Singgah

  • Yang Sedang Online(s)

  • Jalin Silaturahim Lewat Jaringan Silahkan Klik

    Gak Bisa di Klik??? Langsung aja add radenmas_surya
  • Hati dan Cahaya Ke-Maha Agung-an Allah

    "tidak akan cukup untuk menampung Ku Langit Ku dan Bumi Ku itu, yang cukup menampung Ku adalah jiwa hamba Ku yang beriman" (hadist Qudsi)
  • Rumusan Tulisan

Kisah Tak Tuntas……

Mentari masih dalam lelapnya, namun Akbar sudah bergegas membawa tas gendongnya. Dibelakang tasnya tertulis Universitas Negeri Jakarta, tapi ternyata ia tidak berangkat ke kampus itu tetapi justru pergi menuju sebuah agen Koran. Tampak ia sudah akrab dengan orang yang duduk dikursi depan itu, dan terlihat orang tersebut memberikan beberapa bendel Koran yang tampak masih baru. Akbarpun terlihat memasukan koran-koran itu dengan hati-hati kedalam tasnya.

Tak lama kemudian Akbarpun pergi dari tempat dan berjalan menuju perempatan lampu merah kelapa gading yang masih sepi, hanya ada dia dan seorang lainnya yang sama-sama membawa tas yang berisi Koran. Mereka tampak sangat akrab padahal sama-sama menjajakan Koran. Tidak ada greged persaingan diantara keduanya, malah orang tersebut tampak memberikan air minum kepada Akbar. Potret kehidupan kaum bawah memang indah, lebih indah dibanding para elit yang terdidik.

Haripun mulai bergeliat, tampak lalu lalang kendaraan bertambah banyak, Akbarpun dengan sabar menawarkan dagangannya bersama-sama rekan yang lain yang menyebar keberbagai sudut saat lampu merah menyala. Tak terlihat sedikitpun raut wajah kesedihan dalam diri mereka, justru bahkan canda dan tawa mereka yang kadang terdengar disela-sela waktu.

Setelah mentari agak tinggi, Akbar bergegas pulang, tampak beberapa koran masih tersisa ditasnya. Langkah kakinya yang masih kekar, terus berjalan menuju rumah kecil dikawasan kumuh. Ia pun disambut dengan senyuman oleh Ibunya yang telah menantinya dan dua orang adiknya yang masih sekolah dibangku SD yang sama-sama berjualan koran, namun ditempat yang berbeda. Mereka bukannya tidak masuk sekolah tapi mereka sekolah di SD petang. Akbar dan adiknya nampak menata sisa koran pagi ini untuk ditukar koran baru diesok nanti. Ibunya yang telah berumurpun menyuguhkan minuman untuk ketiga anaknya yang masih sibuk menata koran dan menghitung pendapatan hari ini.

Sejenak datang dalam pikirku, betapa tegarnya mereka. Akbar nampak menata sesuatu kembali kedalam tasnya, namun bukan koran. Sepertinya itu adalah buku, tapi untuk apa dia menata buku? Atau mungkinkah ia berjualan buku setelah berjualan koran? Tak lama kemudian iapun pamit kepada Ibunya, dengan pakaian yang lebih rapi, ia tak terlihat seperti anak dari keluarga kurang mampu apalagi seorang loper koran. Ia berjalan kearah kampus UNJ, apakah ia akan berjualan disana, pikirku. Tapi ternyata tidak, ia ternyata mengikuti progam kuliah terbuka yang diselenggarakan kampus itu. Dengan begitu Akbar bisa melanjutkan pendidikan tanpa dipusingkan dengan biaya kuliah yang seabreg.

Setelah malam iapun pulang kerumah, terdengar alunan nada ia dendangkan mengiringi perjalanannya. Tapi bukan bukan lagu yang ia nyanyikan melainkan hafalan mata kuliah yang sedang ia pelajari. Mungkin bagi orang ini rada aneh, tapi setiap orang punya cara sendiri untuk mengingat sesuatu, dan Akbar lebih suka menjadikannya lagu untuk memudahkannya dalam belajar.

Semangat Akbar untuk menimba ilmu patut dicontoh, semangatnya tidak pudar padahal ia telah disibukkan dengan pekerjaannya sebagai loper koran. Namun sayang hanya beberapa bulan Akbar kuliah, Ia harus keluar karena adiknya yang pertama hendak masuk SMP setelah dinyatakan lulus dalam ujian nasional tahun ini. Impian adiknya untuk sekolah disekolah negeri kandas karena kuota yang sudah terpenuhi, akhirnya dengan terpaksa Akbar harus merelakan kuliahnya demi adiknya. Namun Akbar tiada berkecil hati, ia yakin akan ada saatnya dimana kehidupan dia dan keluarganya akan berubah. Bila ia tidak dapat merubahnya maka adiknyalah yang akan membuat perubahan. Karena itu ia berjuang mati-matian demi sekolah adik-adiknya itu.

2 Tanggapan

  1. good

  2. Yup…. “Allah tidak akan pernah merubah nasib seseorang jika ia sendiri tidak ada keinginan untuk merubahnya “…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: